TIMELINE SERANGAN MATARAM KE BATAVIA (1619–1629)

Oleh: Sosromarutto


1619 – VOC Menguasai Jayakarta dan Lahirnya Batavia

Pada tahun 1619, VOC (Vereenigde Oostindische Compagnie) merebut kota Jayakarta dari Kesultanan Banten.
Kota pelabuhan di pesisir barat Pulau Jawa itu kemudian diganti namanya menjadi Batavia, dan dijadikan pusat kekuasaan VOC di Asia Timur.
Dengan jatuhnya Jayakarta, VOC memperkuat posisinya di Jawa Barat dan mulai mengendalikan jalur pelayaran serta perdagangan di sekitar Sunda Kelapa.

Bagi Sultan Agung Hanyakrakusuma, penguasa Kesultanan Mataram, munculnya kekuatan Eropa di pantai barat Jawa menjadi ancaman besar terhadap cita-citanya menyatukan seluruh Jawa di bawah kekuasaan Mataram.


1621 – Hubungan Diplomatik Mataram–VOC dan Awal Ketegangan

Tahun 1621, Mataram dan VOC sempat menjalin hubungan diplomatik. Kedua belah pihak saling mengirim duta besar untuk membuka komunikasi ekonomi dan politik.
Namun hubungan ini tidak bertahan lama. Ketika Mataram menyerang Surabaya, VOC menolak membantu, bahkan menunjukkan sikap curiga terhadap ekspansi militer Mataram.
Sultan Agung menolak permintaan VOC untuk membuka loji dagang di pesisir utara Jawa, sebab ia menilai izin tersebut akan membuat ekonomi pesisir jatuh ke tangan asing.

Sejak saat itu hubungan diplomatik resmi putus, dan ketegangan meningkat.


1625–1627 – Konsolidasi dan Rencana Penyerangan

Setelah menaklukkan Surabaya pada 1625, Sultan Agung menegaskan tujuannya untuk menyatukan seluruh Jawa. Target berikutnya adalah Kesultanan Banten, namun sebelum menyerang ke barat, Batavia harus dikuasai terlebih dahulu karena menjadi pangkalan militer VOC.

Pada masa ini, Sultan Agung mulai menyiapkan kekuatan besar-besaran, memerintahkan pembuatan kapal di pelabuhan utara, mengumpulkan logistik, dan memobilisasi pasukan dari berbagai daerah bawahan seperti Kendal, Tegal, Cirebon, dan Kedu.


April 1628 – Misi Diplomatik Terakhir

Sebagai langkah terakhir sebelum perang, Sultan Agung mengirim Kyai Rangga, Bupati Tegal, sebagai duta ke Batavia.
Ia membawa pesan perdamaian dengan beberapa syarat dagang dari Mataram. Namun, pihak VOC menolak seluruh tawaran tersebut dan memperkuat pertahanannya.

Kegagalan diplomasi ini menjadi titik balik menuju perang terbuka.


⚔️ 22 Agustus 1628 – Armada Mataram Berangkat

Tumenggung Bahureksa dari Kendal memimpin 59 kapal dan sekitar 900 prajurit berangkat menuju Teluk Batavia.
Armada ini membawa logistik besar: 150 ekor sapi, 12.000 karung beras, 26.600 buah kelapa, dan 5.900 karung gula.

Alasan resmi mereka disebutkan untuk berdagang, namun sebenarnya untuk penyusupan awal dan serangan kilat.


⚔️ 25–27 Agustus 1628 – Gelombang Pasukan dan Awal Pertempuran

25 Agustus: 27 kapal tambahan Mataram tiba di Teluk Batavia dan berlabuh agak jauh dari benteng pusat VOC (Kasteel Batavia).
26 Agustus: Pasukan Mataram di bawah Bahureksa mulai mendarat di pesisir utara dan memasang tenda-tenda di luar tembok Batavia.
27 Agustus: Mataram melancarkan serangan pertama ke Benteng Hollandia, namun pasukan Belanda di bawah Letnan Jacob van der Plaetten berhasil menahan mereka.

Pertempuran berlangsung sengit. Sementara itu, pasukan bantuan VOC dari Banten dan Pulau Onrust tiba, menambah kekuatan pertahanan menjadi 530 prajurit bersenjata meriam.


⚔️ Oktober–Desember 1628 – Serangan Darat Besar

Gelombang kedua pasukan Mataram datang dari pedalaman Jawa, dipimpin Pangeran Mandurareja, cucu Ki Juru Martani, dengan 10.000 prajurit.
Mereka berusaha mengepung Batavia dari selatan dan timur.
Namun pasokan logistik terganggu karena jarak yang jauh dari Mataram dan gangguan cuaca tropis.
Akibat kekurangan makanan dan penyakit, kekuatan Mataram mulai menurun.
Sultan Agung murka karena kegagalan serangan. Pada Desember 1628, ia mengirim algojo untuk mengeksekusi Tumenggung Bahureksa dan Pangeran Mandurareja di medan perang.
VOC melaporkan menemukan 744 mayat prajurit Jawa, banyak di antaranya tanpa kepala.

Serangan pertama Mataram berakhir dengan kegagalan tragis.


⚔️ Mei–Juni 1629 – Persiapan Serangan Kedua

Sultan Agung tidak menyerah. Ia menyiapkan serangan kedua dengan skala lebih besar dan strategi lebih matang.

Dua panglima utama ditunjuk:

Adipati Ukur memimpin pasukan yang berangkat pada Mei 1629.
Adipati Juminah memimpin pasukan susulan pada Juni 1629.
Total kekuatan mencapai 14.000 prajurit.
Untuk menghindari kegagalan logistik seperti tahun sebelumnya, lumbung beras rahasia dibangun di Karawang dan Cirebon, namun akhirnya ditemukan dan dibakar oleh mata-mata VOC.

⚔️ Juli–September 1629 – Pengepungan Kedua Batavia

Pasukan Mataram kembali mengepung Batavia dari darat dan laut.
Beberapa sumber menyebut Pangeran Purbaya turut memimpin armada laut Kapal Kaladuta, yang sempat menenggelamkan kapal VOC di perairan Batavia.
Namun serangan besar ini kembali terhambat wabah malaria dan kolera yang merebak di antara pasukan.

Sebelum mundur, Mataram membendung Sungai Ciliwung untuk meracuni air Batavia — taktik yang menyebabkan wabah kolera hebat di kota tersebut.


⚰️ 21 September 1629 – Wafatnya J.P. Coen

Gubernur Jenderal VOC Jan Pieterszoon Coen meninggal dunia pada 21 September 1629.
Versi Belanda menyebut ia meninggal akibat kolera, namun versi Jawa menyebut Coen dibunuh oleh pasangan mata-mata Mataram–Aceh, Wali Mahmudin dan Nyi Mas Utari, yang berhasil menyusup ke kediamannya.
Kepala Coen dikabarkan dibawa ke Karta, ibu kota Mataram, sebagai tanda keberhasilan moral atas penjajahan VOC.

⚔️ Akhir 1629 – Akhir Perang dan Dampaknya

Meskipun serangan kedua gagal menaklukkan Batavia, Mataram berhasil menghancurkan benteng Hollandia dan merebut benteng Bomel di pinggiran kota.
Setelah wabah kolera menewaskan banyak pasukan di kedua pihak, Sultan Agung menarik mundur tentaranya ke Jawa Tengah.
VOC menyelamatkan kekuasaannya di Batavia, tetapi kehilangan ribuan orang akibat penyakit.
Sebagai akibat kekalahan, Patih Singaranu dicopot dan digantikan Tumenggung Danureja.

Sultan Agung kemudian memberlakukan blokade beras terhadap VOC, melarang seluruh ekspor beras ke Batavia, dan mengalihkan perdagangan ke Malaka untuk mendekati Portugis, musuh Belanda.


⚖️ 1630–Setelahnya – Warisan dan Pengaruh

Setelah dua kali kegagalan besar itu, Sultan Agung tidak lagi melancarkan ekspedisi militer ke Batavia.
Namun, daerah sekitar seperti Bekasi dan Bogor Timur berhasil dikuasai dan dimasukkan ke dalam Kadipaten Priangan di bawah Mataram.
VOC menyebut Sultan Agung dengan gelar “Agoeng de Groete” (Agung yang Agung) — pengakuan terhadap kekuatan dan ambisinya yang menakutkan bagi Belanda.

Serangan Mataram ke Batavia dikenang sebagai upaya terbesar kerajaan pribumi Jawa untuk mengusir kekuasaan Eropa dari Nusantara, meskipun berakhir dengan kegagalan militer.


Hasil Akhir :

Serangan Mataram ke Batavia (1628–1629) merupakan puncak ambisi politik dan militer Sultan Agung dalam menyatukan Jawa dan menentang kolonialisme.
Kegagalan dua ekspedisi ini menunjukkan tantangan logistik, penyakit tropis, dan kekuatan pertahanan VOC yang lebih modern.

Namun secara simbolis, perang ini menegaskan semangat kemandirian dan perlawanan terhadap dominasi asing, warisan yang kemudian menjadi inspirasi bagi perjuangan bangsa Indonesia di masa-masa berikutnya.

Daftar Pustaka :

Dobbin, C. (1983). Islamic revivalism in a changing peasant economy: Central Sumatra, 1784–1847. Curzon Press.
Kato, T. (1982). Matriarchy and migration: Evolving Minangkabau traditions in Indonesia. University of Chicago Press.
Lindayanti. (2010). Perang Padri: Kajian sejarah dan dinamika sosial Minangkabau. Balai Pustaka.
Navis, A. A. (1984). Alam Terkembang Jadi Guru: Adat dan kebudayaan Minangkabau. Grafiti Pers.
Radjab, M. (1954). Perang Paderi di Sumatera Barat (1803–1837). Balai Pustaka.
Ricklefs, M. C. (2008). A history of modern Indonesia since c. 1200 (4th ed.). Palgrave Macmillan.
Schreiber, G. (1945). Het conflict tusschen de Padri’s en de Minangkabausche hoofden. Djambatan.
Dobbin, C. (1977). The rise of Muslim power in West Sumatra (1784–1847). Indonesia, 24, 1–12.


Menurut Catatan VOC, Timeline Serangan Mataram Ke Batavia adalah :


1624–1627 — Latar Belakang: Ambisi Sultan Agung dan Tumbuhnya Batavia

Awal abad ke-17 menjadi masa ketika dua kekuatan besar tumbuh berdampingan namun saling curiga: Kesultanan Mataram di bawah Sultan Agung Anyakrakusuma, dan VOC yang baru membangun pusat kolonialnya di Batavia. Dua sistem politik dan ekonomi yang berbeda ini sama-sama berebut pengaruh atas jalur dagang dan pesisir Jawa. Sultan Agung memandang Batavia sebagai duri dalam tubuh Mataram, sementara VOC melihat Mataram sebagai ancaman terbesar atas monopoli dagang mereka.


1627 — Persiapan Militer Besar di Mataram

Pada tahun 1627, Sultan Agung mulai menyiapkan serangan besar. Ia menunjuk panglima-panglima berpengaruh seperti Tumenggung Bahurekso, Dipati Ukur, Tumenggung Endranata, dan para bupati pesisir untuk memobilisasi prajurit, logistik, dan jaringan intel yang menjangkau hingga Karawang. Sementara itu, VOC memperkuat Batavia dengan mengerahkan figur-figur penting seperti Jan Pieterszoon Coen, Jacques Specx, dan Anthony van Diemen, membangun pertahanan berlapis, serta melakukan penebangan hutan kelapa untuk mempersempit ruang gerak pasukan Jawa.


April 1628 — Utusan Terakhir: Kyai Rangga Ditolak VOC (Versi Diperpanjang – Telah Disisipkan)

Pada April 1628, Sultan Agung mencoba menempuh cara damai sebelum memutuskan perang terbuka. Ia mengutus Kyai Rangga, Bupati Tegal yang dikenal cerdas dan berwibawa, membawa pesan diplomasi terakhir kepada VOC. Dalam budaya politik Jawa, pengiriman seorang bupati bukan hal kecil—itu adalah tanda kehormatan bahwa Mataram masih membuka pintu negosiasi.

Setibanya di Batavia, Kyai Rangga menyampaikan bahwa Sultan Agung meminta VOC menghentikan perluasan pusat dagang mereka di pesisir Jawa dan mematuhi aturan perdagangan lokal yang telah berjalan turun-temurun. Namun catatan Raad van Indië menunjukkan betapa tajamnya perbedaan sudut pandang. Para pejabat VOC menilai permintaan itu sebagai ancaman terhadap monopoli mereka, sehingga semua bentuk kompromi ditolak secara langsung tanpa ruang diskusi panjang.

Kyai Rangga kembali ke Mataram dengan tangan hampa. Laporan ini menjadi penanda penting di istana: VOC tidak akan tunduk melalui diplomasi apa pun. Sejak saat itu, Sultan Agung mengerahkan seluruh kekuatan negara untuk persiapan perang besar yang akan mengguncang Jawa pada tahun yang sama.


Agustus–Oktober 1628 — Serangan Besar Pertama Tumenggung Bahurekso

Gelombang pertama pasukan Mataram tiba pada Agustus 1628. Dipimpin oleh Tumenggung Bahurekso, panglima perkasa dari Kendal, lebih dari 10.000–12.000 prajurit bergerak melalui jalur laut dan darat menuju timur Batavia. Mereka membangun markas besar di kawasan yang kini menjadi Jatinegara–Matraman, lalu mulai menekan pos-pos luar VOC.

Di dalam kota, Jan Pieterszoon Coen, meski dalam kondisi sakit, memimpin pertahanan dengan disiplin keras. VOC menebangi hutan kelapa, menggali parit-parit, dan memperkuat benteng selatan. Pertempuran berlangsung sengit selama lebih dari dua bulan. Mataram melakukan serangan malam, membakar lumbung VOC, dan menggali lubang-lubang perang mendekati tembok kota.

Namun logistik Mataram melemah. Kemarau panjang membuat persediaan air dan beras menipis. Pada Oktober 1628, Bahurekso memimpin serangan terakhir ke tembok selatan namun gugur dalam pertempuran. Kematian sang panglima menyebabkan pasukan mundur, menandai kegagalan gelombang pertama.


Awal 1629 — Pembangunan Jalur Logistik Raksasa

Belajar dari serangan pertama, Sultan Agung memerintahkan pembangunan ratusan lumbung rahasia di Bagelen, Kedu, Karawang, dan Priangan. Jaringan logistik ini disamarkan dalam bentuk kampung, hunian kecil, hingga gubuk penggilingan padi. Pada saat yang sama, VOC berada dalam kondisi rapuh akibat wabah penyakit dan kelaparan di dalam Batavia.


Juni–Oktober 1629 — Serangan Kedua Dipati Ukur

Serangan kedua dipimpin oleh Dipati Ukur, tokoh karismatik dari Priangan. Ia membawa pasukan 20.000–30.000 prajurit, bergerak cepat melalui jalur-jalur hutan dan gunung. Strategi kali ini lebih matang: Mataram menghantam lumbung VOC terlebih dahulu agar kota jatuh ke dalam kelaparan.

VOC menghadapi masa kritis. Pada September 1629, Jan Pieterszoon Coen meninggal, membuat kepemimpinan sementara diserahkan kepada Jacques Specx dan Anthony van Diemen. Dalam kondisi genting itu, Dipati Ukur berhasil menghancurkan dua lumbung besar VOC di luar kota. Namun satu kejadian mengubah arah perang: VOC menemukan dan membakar lumbung-lumbung rahasia Mataram di Karawang dan Bekasi sebelum pasukan utama tiba.

Tanpa logistik, serangan Mataram mulai melemah. Meski demikian, dua gelombang serangan besar tetap dilakukan di tembok selatan. Pertempuran berlangsung intens—VOC menahan serangan dengan meriam kecil, senapan, dan pertahanan menara. Pada akhir Oktober, Dipati Ukur memerintahkan mundur. Paska penarikan pasukan, ia dituduh memberontak sebelum akhirnya dihukum mati, menutup kisah tragis serangan kedua.


Akhir 1629 — Batavia Bertahan, Ambisi Gagal

Dengan runtuhnya dua gelombang serangan, ambisi Sultan Agung untuk menaklukkan Batavia terhenti. Batavia selamat meski terluka, dan VOC menuliskan kemenangan ini sebagai fondasi kebangkitan kekuasaan kolonial mereka di Jawa. Bagi Mataram, dua tahun perang itu menjadi peristiwa besar sekaligus yang paling mahal dalam sejarah kerajaan.


Dampak Jangka Panjang 

Kegagalan menaklukkan Batavia pada 1628–1629 memaksa Sultan Agung mengalihkan fokus dari ambisi menghancurkan VOC menuju penguatan jati diri politik Mataram di Jawa. Ia memusatkan energinya pada konsolidasi internal: restrukturisasi kadipaten, penegakan kembali loyalitas para bupati pesisir, serta pembaruan sistem administrasi kerajaan. Dalam periode ini pula lahir reformasi kalender Jawa 1633, yang menggabungkan unsur Saka dan Hijriyah, menjadi simbol kekuasaan Sultan Agung sebagai pemersatu budaya dan otoritas spiritual.

Walaupun gagal menembus Batavia, ekspansi Mataram di wilayah-wilayah penyangga tetap berlanjut. Setelah mengakhiri kampanye besar terhadap VOC, Sultan Agung memperkokoh kendali atas daerah-daerah strategis berikut:

  • Cirebon: Tidak ditaklukkan secara penuh, tetapi berada dalam posisi sebagai negara sahabat yang tunduk secara politis pada Mataram. Pengaruh Mataram tampak pada penempatan pejabat penghubung dan kewajiban upeti simbolis.

  • Priangan Timur: Termasuk Galuh, Sukapura, dan daerah pegunungan Priangan lainnya. Wilayah ini makin terintegrasi dalam sistem Mataram setelah 1630-an melalui penaklukan terhadap penguasa lokal dan penempatan bupati yang loyal.

  • Krawang–Sumedang–Ukuran perbatasan Sunda: Sultan Agung menguatkan garis depan Mataram di daerah ini untuk mencegah infiltrasi VOC dan mempertegas batas pengaruh di arah barat laut.

  • Pesisir Jawa Tengah dan Selatan: Kendal, Pekalongan, dan pesisir selatan hingga Bagelen berada semakin kuat di bawah kontrol pusat sebagai imbas restrukturisasi setelah perang.

  • Blambangan (dalam proses): Walau baru ditaklukkan sepenuhnya pada masa Amangkurat I, fondasi ekspedisi dan tekanan politik terhadap Blambangan dirintis sejak era Sultan Agung.

Sementara itu di pihak VOC, kegagalan Mataram memberikan ruang bagi mereka untuk memperkuat pertahanan Batavia, memperbaiki struktur parit, menambah benteng luar, serta mengonsolidasikan kendali atas jalur niaga dari Pelabuhan Sunda Kelapa hingga pedalaman. Batavia semakin kokoh sebagai pusat kolonial yang sulit diganggu.

Bagi sejarah Jawa, perang 1628–1629 menjadi sebuah simpul penting: sebuah benturan dua kekuatan besar yang membentuk arah politik, budaya, dan geopolitik Nusantara selama berabad-abad berikutnya. Konflik ini bukan hanya soal gagal atau berhasilnya ekspedisi militer, melainkan pertarungan visi antara negara agraris-feodal terbesar di Jawa dan kekuatan dagang global yang sedang menjelma menjadi kekaisaran kolonial.

Daftar Pustaka :

Dagh-Register gehouden bij het Kasteel Batavia (1620–1640)
Catatan harian pejabat VOC di Batavia. Mencatat kedatangan pasukan Mataram, kondisi logistik VOC, serangan Baureksa, dan ancaman epidemi.
Generale Missiven van Gouverneurs-Generaal en Raden aan Heren XVII
Laporan resmi VOC ke Amsterdam dari tahun 1627–1630. Memuat deskripsi taktik Mataram, nama-nama komandan VOC, dan kondisi Batavia selama pengepungan.
Raad van Indië Notulen (1628–1629)
Khusus mengenai penolakan misi diplomatik April 1628 yang dikirim Sultan Agung (terkait Kyai Rangga).
Verslag Jacques Specx & Cornelis van der Lijn
Laporan situasi Batavia pada saat serangan kedua 1629.

Comments

Popular posts from this blog

Peta Perang Pasifik antara Sekutu dan Kekaisaran Jepang 1941 - 1945

Map Of Ancient Humans in Indonesia Ever Recorded in History (1.2 Million Years Ago - 40,000 Years Ago)